Selasa, 01 Mei 2012

Susunan Menu Seimbang


Seperti yang telah diketahui sebelumnya bahwa pola makan adalah jumlah pangan yang dikonsumsi seseorang atau sekelompok orang pada waktu tertentu. Pola konsumsi masyarakat ini dapat menunjukkan tingkat keragaman pangan masyarakat yang selanjutnya dapat diamati dari parameter Pola Pangan Harapan (PPH). PPH atau Desirable Dietary Pattern adalah susunan beragam pangan yang didasarkan pada sumbangan energi dari kelompok pangan utama dari suatu pola ketersediaan atau konsumsi panagn. Definisi FAO-RAFA(1989) adalah komposisi kelompok pangan yang bila dikonsumsi dapat memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi lainnya. Dengan demikian PPH adalah suatu komposisi norma pangan untuk memenuhi kebutuhan gizi penduduk, sekaligus juga mempertimbangkan keseimbangan gizi yang didukung oleh cita rasa, daya cerna, daya terima masyarakat, kuantitas dan kemampuan daya beli (Yayuk Farida dkk, 2002).
Berdasarkan data Susenas tahun 1999, pola konsumsi pangan penduduk belum memenuhi AKG. Seperti yang terlihat pada tabel 1, tingkat konsumsi energi baru mencapai sebesar 1.954 kkal/kapita/hari. Selain itu, dapat diamati juga dari parametr PPh. PPH menggambarkan susunan beragam pangan yang didasarkan pada sumbangan energi dari kelompok pangan utama. Secara nasional, pola konsumsi pangan penduduk mempunyai skor PPH sebesar 71,88. Hal ini berarti pola konsumsi belum beragam karena masih didominasi kelompok padi-padian (63,7%).
           Tabel 1. Pola Pangan Nasional
KELOMPOK PANGAN
           AKTUAL
         STANDAR
BOBOT
E
%
E
SKOR
PPH
E
%
AKG
SKOR
PPH
Padi-padian
Umbi-umbian
Pangan hewani
Minyak dan lemak
Buah/ biji berminyak
Kacang-kacangan
Gula
Sayur dan buah
1246
68
128
202
50
73
103
84
63,77
3.48
6,55
10,34
2,56
3,74
5,27
4,30
31.88
1,74
13,10
5,17
1,28
7,47
2,64
8,60
1075
108
329
215
63
108
144
108
50
5
15,3
10
3
5
6,7
5
25
2,5
30,6
10
1,5
10
3,4
10
0,5
0,5
2,0
0,5
0,5
2,0
0,5
2
Total
1954
100
71,88
2150
100
93

Sumber : data Susenas
Pangan dan gizi sangat berkaitan erat karena gizi seseorang sangat tergantung padsa kondisi pangan yang dikonsumsinya. Masalah pangan meliputi ketidakseimbangan atau ketidakberagaman jenis pangan. Ketidakberagaman jenis pangan ini sebagai salah satu penyebab timbulnya masalah gizi baik makro maupun mikro. Masalah gizi makro meliputi gizi lebih dan gizi kurang seperti Kurang Energi Protein (KEP) sedangkan masalah gizi mikro hanya berbentuk gizi kurang seperti anemia(Yayuk Farida dkk,2002).
Menurut Sumarumi (2000) mengatakan sebenarnya untuk hidup dan meningkatkan kualitas hidup, setiap orang memerlukan 5 kelompok zat gizi          (karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral) dalam jumlah cukup, tidak berlebihan dan tidak juga berkekurangan. Disamping itu, manusia juga memerlukan air dan serat untuk memperlancar berbagai proses faali tubuh. Apabila kelompok zat gizi tersebut diuraikan lebih rinci, maka terdapat lebih dari 45 jenis zat gizi. Dengan mengkonsumsi makanan sehari-hari yang beraneka ragam, kekurangan zat gizi. Dengan mengkonsumsi makanan sehari-hari yang beraneka ragam, kekurangan zat gizi pada jenis makanan yang satu akan dilengkapi oleh keunggulan susunan zat gizi jenis makanan lain, sehingga diperoleh makanan zat gzizi yang seimbang.Jadi, untuk mencapai masukan zat gizi yang seimbang tidak mungkin dipenuhi hanya oleh satu jenis makanan, melainkan harus terdiri dari aneka ragam bahan makanan. Hal ini berarti ada saling ketergantungan antar zat gizi. Sesuai dengan konsep keterkaitan antar zat gzizi, sudah saatnya kini dimasyarakatkan adanya ketergantungan anatar zat gizi atau antar berbagai jenis makanan. Setiap jenis makanan memiliki peranan masing-masing dalam menyeimbangkan masukan zat gizi sehari-hari. Perhatikan peranan berbagai kelompok bahan makanan yang secara jelas tergambar dalam logo gizi seimbang berbentuk kerucut (tumpeng). Dalam logo tersebut bahan makanan yang dikelompokkan berdasarkan fungsi utama zat gizi, yang dalam ilmu gizi dipopulerkan dengan istilah Tri Guna Makanan :
1. Sumber zat tenaga yaitu padi-padian dan umbi-umbian serta tepung-tepungan yang digambarkan di dasar kerucut.
2.  Sumber zat pengatur yaitu sayur dan buah digambarkan pada bagian tengah kerucut.
3.  Sumber zat pembangun, yaitu kacang-kacangan, makanan hewani dan hasil olahan, digambarkan pada bagian atas kerucut. Keseimbangan gizi diperoleh apabila hidangan sehari-hari terdiri dari sekaligus tiga kelompok bahan makanan.

0 komentar:

Poskan Komentar