Selasa, 01 Mei 2012

Pelayanan Gizi Di Rumah Sakit


A.    Asuhan Gizi
Asuhan gizi merupakan sarana dalam upaya pemenuhan zat gizi pasien. Untuk tercapainya pelayanan gizi dan kesehatan paripurna pasien, baik rawat inap maupun rawat jalan, secara teoritis memerlukan tiga jenis asuhan (care) yang pada pelaksanaannya dikenal sebagai pelayanan (services). Ketiga jenis asuhan tersebut adalah : a) Asuhan Medik, b) Asuhan Keperawatan, c) Asuhan Gizi (Depkes RI, 2003).
Seiring  dengan kemajuan pelayanan  kesehatan di rumah sakit, pelayanan gizi telah mengalami perkembangan yang pesat di negara-negara maju. Pendekatan Health Care Team Patient dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan betul-betul diterapkan, sehingga konsumen sudah merasakan rasa nyaman di rawat di rumah sakit. Makanan di rumah sakit tidak saja diperhatikan dari aspek terapinya tetapi juga sebagai suatu hal yang mempengaruhi kenyamanan tinggal di rumah sakit (Almatsier, 1992).
B.     Tujuan Asuhan Gizi
Tujuan utama Asuhan Gizi adalah memenuhi kebutuhan zat gizi pasien secara optimal baik berupa pemberian makanan pada pasien yang dirawat maupun konseling gizi pada pasien rawat jalan. Pelayanan gizi yang merupakan bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan paripurna di rumah sakit, juga mencakup ke empat aspek upaya pelayanan preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif dalam menanggulangi masalah gizi. Kita menyadari sepenuhnya bahwa peranan dan fungsi Pelayanan Gizi Rumah Sakit (PGRS) menjadi sangat penting, baik dalam melaksanakan fungsi rujukannya maupun dalam melaksanakan intervensi gizi secara umum terhadap pasien di rumah sakit (Depkes, 2003).
Tujuan kegiatan PGRS adalah untuk memberikan terapi diit yang sesuai dengan kondisi pasien dalam upaya mempercepat penyembuhan melalui penyediaan makanan khusus, upaya perubahan sikap dan perilaku terhadap makanan selama dalam perawatan, adanya peran serta masyarakat dalam upaya mencegah kambuhnya  penyakit. Oleh karena itu, makanan yang disediakan sudah diperhitungkan jumlah dan mutu gizinya, dan harus dihabiskan pasien agar penyembuhannya dapat berjalan sesuai dengan program yang ditetapkan (Syahmien Moehyi, 1999).
C.    Penyelenggaraan Makanan Rumah Sakit
Penyelenggaraan makanan rumah sakit adalah suatu rangkaian kegiatan mulai dari perencanaan menu sampai dengan pendistribusian makanan kepada konsumen, dalam rangka pencapaian status kesehatan yang optimal melalui pemberian diet yang tepat. Willan tahun 1990 mengemukakan bahwa tugas instalasi gizi adalah menyediakan dan menghidangkan makanan serta diit khusus bagi pasien.
Masalah utama yang sering dijumpai pada pasien yang dirawat inap dirumah sakit adalah masalah malnutrisi. Hal ini terjadi karena kurangnya perhatian petugas kesehatan terhadap masalah gizi pasien, sehingga pasien harus lebih menderita dan lebih lama dirawat dari semestinya. Hal ini secara ekonomis tidak menguntungkan bagi pasien, maupun bagi rumah sakit (Depkes RI, 2003).
Mutu dan cara pengaturan makanan yang disajikan merupakan salah satu ukuran untuk menilai baik buruknya pelayanan kesehatan yang diperoleh di rumah sakit, dengan meningkatnya tingkat perekonomian masyarakat diperkotaan dengan sendirinya bertambah pula kebutuhan masyarakat terhadap mutu pelayanan rumah sakit. Masyarakat tidak lagi hanya mementingkan tersedianya pelayanan kesehatan tetapi juga memperhatikan bagaimana mutu pelayanan yang diberikan (Sutarjo, 1993).
Dalam manajemen mutu makanan pelanggan menjadi pusat perhatian. Paradigma baru dalam pelayanan kesehatan menempatkan kepuasan pasien sebagai salah satu indikator penting, sama halnya seperti pelanggan bisnis. Untuk memenangkan persaingan, rumah sakit dan instalasi gizi harus mampu memberikan kepuasan pada pelanggannya. Jika pelanggan dalam hal ini pasien, tidak puas maka pasien meninggalkan rumah sakit dan menjadi pelanggan rumah sakit lainnya. Sebaliknya jika pasien merasa puas akan cenderung kembali jika memerlukan perawatan, dan dari mulut kemulut akan mempromosikan mutu rumah sakit pada kerabat atau relasinya (Supranto, 1997).
Menurut Azwar tahun 1994, mutu pelayanan kesehatan menunjukkan tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan, yang disatu pihak dapat menimbulkan kepuasan pada setiap pasien sesuai dengan tingkat kepuasa rata-rata penduduk, serta di pihak lain tata cara penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik dan standar pelayanan propesi yang ditetapkan.

0 komentar:

Poskan Komentar