Selasa, 01 Mei 2012

Mengatasi Penyebab Anemia Akibat Kurang Gizi


Selain gejala "4 L", ada anemia yang memiliki tanda-tanda aneh dan tidak normal. Anemia Pica namanya, menyebabkan penderita memiliki selera makan yang tidak lazim, seperti makan tanah, kotoran, adonan semen, serpihan cat, atau minum minyak tanah. Itu hanya salah satu dari beberapa jenis anemia kekurangan gizi yang akan dibeberkan penyebab maupun cara penanggulangannya berikut ini.
Istilah anemia langsung mengingatkan kita pada penyakit lesu darah, yang tidak lain adalah menurunnya jumlah dan mutu sel darah di dalam tubuh. Seperti diketahui, sel darah terdiri atas sel darah merah (hematokrit), hemoglobin, ferritin, serum besi, dan lainnya.
Fungsi sel darah merah itu penting mengingat tugasnya antara lain sebagai sarana transportasi zat gizi, dan terutama juga oksigen yang diperlukan pada proses fisiologis dan biokimia dalam setiap jaringan tubuh. Terkena anemia berarti, selain pasokan oksigen ke seluruh tubuh jadi berkurang, berbagai akibat fisiologis dan psikologis juga akan muncul.
Akibat anemia gizi antara lain tampak pada tubuh yang sering mengalami gejala "4 L": letih, lemah, lesu, dan loyo. Di samping itu muka tampak pucat, kehilangan selera makan, apatis, sering pusing, sulit berkonsentrasi, serta mudah terserang penyakit.
Di Indonesia, anemia gizi masih merupakan masalah gizi utama dan terus diperbaiki secara berkelanjutan. Data terakhir menunjukkan, prevalensi anemia gizi besi masih tinggi (Kodiyat, 1995): ibu hamil (63,5%), balita (55,5%), anak usia sekolah (20 -40%), wanita dewasa (30 - 40%), pekerja berpenghasilan rendah (30 - 40%), dan pria dewasa (20 - 30%).
Selain gejala anemia yang tampak dan dirasakan, untuk mengetahui lebih teliti perlu dilakukan tes darah di laboratorium. Beberapa indikator yang lazim digunakan untuk itu adalah kadar serum ferritin (SF), transferin saturation (TS), free erytrocytes protophorphyrin (FEP), dan kadar hemoglobin (Hb).
Standar anemia masing-masing indikator adalah sebagai berikut: kadar Hb laki-laki 13 g/dl dan wanita di bawah 12 g/dl. Indikator yang berlaku untuk kedua jenis kelamin: kadar serum ferritin di bawah 12 mcg/l, kadar TS kurang dari 16%, dan kadar FEP di atas 100 mcg/dl sel darah merah. Dari pengalaman di lapangan, kadar Hb dapat dijadikan indikator representatif untuk kegiatan intervensi penanggulangan anemia gizi.
Kerusakan sel darah merah
Anemia bisa terjadi akibat keadaan-keadaan seperti kehilangan darah karena luka berat, tindakan pembedahan, kecelakaan, menstruasi, melahirkan, dan terlalu sering menjadi donor darah.
Namun, anemia juga bisa karena kerusakan sel darah merah akibat kurang gizi, adanya zat beracun atau patogen, faktor keturunan (genesis), penyakit Hodgkin atau kanker pada organ penyimpanan serta pembentukan darah seperti hati, limpa, dan sumsum tulang.
Menurunnya jumlah sel darah merah bisa juga akibat zat gizi besi digunakan untuk kepentingan lain (di luar untuk pembuatan sel darah merah). Misalnya, akibat kekurangan asam lambung, penyakit pada sumsum tulang, kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk pembentukan atau memproduksi sel-sel darah merah seperti asam folat, vitamin B12, dan lainnya. Anemia juga bisa disebabkan oleh menurunnya kualitas serta kuantitas hemoglobin sel darah merah.
Ada dua tipe anemia yang dikenal selama ini yaitu anemia gizi dan nongizi. Anemia gizi adalah keadaan kurang darah akibat kekurangan zat gizi yang diperlukan dalam pembentukan serta produksi sel-sel darah merah, baik kualitas maupun kuantitasnya. Sedangkan anemia nongizi akibat pendarahan seperti luka akibat kecelakaan, mensturasi, atau penyakit darah yang bersifat genesis seperti thalasemia, hemofilia, dan lainnya.
Anemia gizi itu sendiri ada beberapa macam:
a.       Anemia gizi besi:
karena zat gizi besi (Fe) merupakan inti molekul hemoglobin yang merupakan unsur utama dalam sel darah merah, maka kekurangan pasokan zat gizi besi menyebabkan menurunnya produksi hemoglobin. Akibatnya, terjadi pengecilan ukuran (microcytic), rendahnya kandungan hemoglobin (hypochromic), serta berkurangnya jumlah sel darah merah. Penderita mengalami gejala umum berupa "4 L" itu tadi disertai pucat, kesemutan, mata berkunang-kunang, jantung berdegup kencang, dan kurang bergairah.
Untuk mengatasinya secara oral atau suntikan bisa diberikan suplemen zat gizi besi dengan dosis 60 - 180 mg/hari sampai keadaan normal. Untuk mencegah terjadinya anemia gizi besi bisa dilakukan dengan mengkonsumsi bahan makanan sumber utama zat besi seperti daging dan sayuran sesuai kecukupan gizi yang dianjurkan.
b.       Amenia gizi vitamin E:
mengakibatkan integritas dinding sel darah merah menjadi lemah dan tidak normal sehingga sangat sensitif terhadap hemolisis (pecahnya sel darah merah). Soalnya, vitamin E adalah faktor esensial bagi integritas sel darah merah.
c.       Anemia gizi asam folat:
disebut juga anemia magaloblastik atau makrositik; dalam hal ini keadaan sel darah merah penderita tidak normal dengan ciri-ciri bentuknya lebih besar, jumlahnya sedikit dan belum matang. Penyebabnya ialah kekurangan asam folat dan atau vitamin B12. Padahal kedua zat itu diperlukan dalam pembentukan nukleoprotein untuk proses pematangan sel darah merah dalam sumsum tulang.
Penanganan gizinya dilakukan dengan tes laboratorium adanya B12 dalam darah untuk membedakannya dengan anemia pernicious. Bila ternyata kadar vitamin B12 normal, maka dapat dilakukan pemberian asam folat dengan dosis 0,1 - 1,0 mg/hari. Bila terjadi malabsorbsi, asam folat itu dapat disuntikkan dengan dosis 0,01 mg/hari. Tentunya hal ini perlu dikonsultasikan dengan dokter ahli gizi.
d.      Anemia gizi vitamin B12:
disebut juga pernicious, keadaan dan gejalanya mirip dengan anemia gizi asam folat. Namun, anemia jenis ini disertai gangguan pada sistem alat pencernaan bagian dalam. Pada jenis yang kronis bisa merusak sel-sel otak dan asam lemak menjadi tidak normal serta posisinya pada dinding sel jaringan saraf berubah. Dikhawatirkan, penderita akan mengalami gangguan kejiwaan.
Penanganan gizinya diawali dengan tes darah untuk mengetahui spesifikasi kekurangan zat gizinya. Kekurangan vitamin B12 dapat diatasi dengan pemberian secara oral atau suntikan dengan dosis sekitar 100 mcg/hari, sesuai anjuran dokter gizi.
e.       Anemia gizi vitamin B6:
anemia ini disebut juga siderotic. Keadaannya mirip dengan anemia gizi besi, namun bila darahnya dites secara laboratoris, serum besinya normal. Kekurangan vitamin B6 akan mengganggu sintesis (pembentukan) hemoglobin. Penanganan gizinya dengan memberikan suplemen vitamin B6 secara oral dengan dosis 50 - 200 mg/hari atau sesuai anjuran dokter gizi.
f.        Anemia Pica:
tanda-tanda anemia Pica aneh dan tidak normal. Penderita memiliki selera makan yang tidak lazim, seperti makan tanah, kotoran, adonan semen, serpihan cat, atau minum minyak tanah. Tentu saja perilaku makan ini akan memperburuk penyerapan zat gizi besi oleh tubuh.
Untuk mengatasinya dilakukan penanganan gizi seperti pada anemia gizi besi yaitu dengan memberikan suplemen besi (Fe) dengan dosis 60 - 180 mg/hari sesuai anjuran dokter gizi. Selain itu pihak keluarganya harus mengawasi dan mencegah penderita untuk tidak melakukan kebiasaan makan benda-benda yang aneh-aneh itu.
Beberapa zat gizi memang sangat berperan dan diperlukan dalam pembentukan dan produksi sel darah merah.
Zat gizi besi (Fe) merupakan kelompok mineral yang diperlukan, sebagai inti dari hemoglobin, unsur utama sel darah merah. Sedangkan tembaga (Cu) sebagai bagian enzim untuk membentuk zat besi ferri agar dapat masuk dalam sel darah.
Dari kelompok vitamin, vitamin C digunakan untuk mereduksi besi menjadi bentuk ferrous agar mudah diserap tubuh. Vitamin B6 sebagai kofaktor dalam pembentukan hemoglobin. Sedangkan vitamin B12 dan asam folat diperlukan sebagai bagian pengendali dalam proses pertumbuhan atau perbanyakan serta pematangan sel darah merah. Vitamin E diperlukan untuk mempertahankan integritas dinding sel darah. Sedangkan protein diperlukan sebagai bahan dasar hemoglobin dan sel darah merah.
Zat-zat gizi itu hendaknya kita pasok setiap hari dalam jumlah yang sesuai dengan keperluannya. Rata-rata kecukupan yang dianjurkan per hari untuk masing-masing zat gizi ini adalah protein 12 - 62 g, vitamin B6 1,5 - 2,5 mg, vitamin B12 sekitar 0,3 - 2,6 mcg, asam folat kurang lebih 25 - 200 mcg. Untuk vitamin C diperlukan sekitar 30 - 60 mg dan vitamin E kurang lebih 3 - 13 mg (alfa tokoferol). Sedangkan dari kelompok mineral, zat gizi besi (Fe) dianjurkan sekitar 3 - 30 mg dan tembaga (Cu) sekitar 0,4 - 3,0 mg.
Seluruh keperluan zat gizi itu diutamakan berasal dari makanan pokok, lauk pauk, sayuran hijau dan buah-buahan, serta tahu dan tempe atau hasil olahannya. Dalam keadaan tertentu bisa ditambah dengan minum zat gizi, sesuai anjuran dokter.
Hendaknya sehari-hari kita selalu memperhatikan susunan menu berdasarkan ketentuan gizi seimbang. Atau paling tidak memenuhi kriteria gizi "empat sehat lima sempurna."

0 komentar:

Posting Komentar