Jumat, 04 Mei 2012

Pemeriksaan Fisik Pada Anak


A.    PENGERTIAN.
Pengkajian fisik adalah proses berkelanjutan yang dimulai secara wawancara, terutama dengan menggunakan inspeksi atau observasi. Selama pemeriksaan yang lebih formal,alat-alat untuk perkusi,palpasi dan auskultasi ditambahkan untuk memantapkan dan menyaring pengkajian sistem tubuh.Seperti pada riwayat kesehatan, obyekyif dari pengkajian fisik adalah untuk merumuskan diagnsa keperawatan dan mengevaluasi keefektivan intervensiterapeutik.( Wong,2003)
Pengkajian merupakan tahap pertama dalam proses keperawatan,dimana tiap tahap perawatan melakukan pengkajian data yang diperoleh dari hasil wawancara, laporan teman sejawat, catatan keperawatan, atau catatan kesehatan lain dan pengkajian fisik.( Robert Priharjo, 1993 ).
Physical examination merupakan tehnik maneuver yang terdiri dari beberapa rangkaian, yang masing-masing anak memlik sensifitas dan verbal baik fisik maupun spikologik.( Wong, 1993 ).
Pemeriksaan fisik lebih dari suatu rangkaian latihan tehnikal. Hal itu merupakan tuntutan yang sama sensivitasnya dengan kebutuhan fisik dan psikologik anak yang sulit di kenal dan tidak sama dengan yang lainnya.( Wong, 1993 ).
B.     TUJUAN PEMERIKSAAN FISIK.
Tujuan pemeriksaan fisik adalah memperoleh informasi yang akurat tentang keadaan fisik pasien. Karena sifat alamiah bayi dan anak, ururan pemeriksaan tidak harus menuruti sistematika yang lazim pada orang dewasa. Dalam pemeriksan anak harus memperhatikan kebutuhan perkembangan mental anak. Penggunaan perkembanagn mental dan kronologi umur sebagai kriteria utama dalam pengkajian tiap sistem tubuh memudahkan/menyelesaikan dari beberapa tujuan, diantaranya :
1.      Meminimalkan steres dan ansietas yang berhubungan dengan pengkajian pada baguan-bagian tubuh yang berbeda.
2.      Memelihara dan membina hubungan saling percaya antara perawat, anak dan orang tua.
3.      Memberikan persiapan yang maksimum pada anak.
4.      Memberikan perlindungan yang esensial pada hubungan antara orang tua-anak, terutama dengan anak kecil.
5.      Memaksimalkan keakuratan dan reabilitas hasil pengkajian.
C.     PEMERIKSANAAN ANAK.
Walaupun pemeriksaan fisik dilakukun dengan prosedur yang tidak menyebabkan rasa saki, tetapi kepada seorang anak dengan menggunakan jari, telapak tangan, lengan, pemeriksaan dalam telinga dan mulut,menekn abdomen dan mendengarkan dasa dengan permukaan metal yang dingin dapat menimbulkan stresful. Pemeriksaan fisik ini harus menjadi hal yang menyenangkan dan sama baik hasilnya. Misalnya dengan anak pre school dan yang lebih tua perawat dapat menggunakan gambar atau boneka untuk membantu anak belajar tentang tubuh mereka.
Tehnik “Paper Doll” merupakan pendekatan yang digunakan untuk mengajarkan anak tentang bagian tubuh mereka yang diperiksa. Kesimpulannya adalah saat kunjungan anak dapat membawa paper doll sebagai pengingat pengalaman. Banyak permintaan anak yang sangat kooperatif ketika orang tua bersama mereka. Hal ini ada yang menyebabkan, bagaimanapun saat anak yang lebih tua terutama adolence lebih memilih di periksa sendiri pada pemeriksaan genetalia, sering anak yang sedang diperiksa juga disertai saudara kandungnya yang dapat menyebabkan ke tidak teraturan kerena ada boredom.
Sebuah taktik untuk membantu mereka adalah untuk memberikan mereka kesempatan untuk mencoba alat pemeriksaan seperti stetoskop atau spatel lidah dan memuji anak atas “Bantuannya”selama pemeriksaan.
D.    KOMUNIKASI SEBELUM PEMERIKSAAN FISIK.
Sebagai tenaga medis sebelum melakukan pemeriksaan hendaknya jangan mengabaikan komunikasi walaupun pada anak sekalipun. Hal ini bertujuan agar nantinya ia mendapatkan informasi yang akurat dengan pasien. Adapun komunikasi yang dilakukan perawat sebelum melakukan pemeriksaan fisik antara lain:
1.      Bicara terlebih dahulu pada orang tua, tunjukkan bahwa kita akan membina hubungan yang baik dengannya.Dengan demikian, anak akan melihat bahwa kita berbuat baik terhadap orang tuanya. Kemudian perhatian kita alihkan pada anak dengan tujuan semula, yaitu melakukan pengkajian.
2.      Mulai kontak dengan anak dengan menceritakan sesuatu yang lucu. Dengan demikian harapkan anak akan tertarik dengan pembicaraan perawat dan mau bekerja sama.
3.      Gunakan mainan sebagai pihak ketiga dalam bentuk yang lain sebagai titik masuk berbicara pada anak. Hal ini akan sangat efektif terutama pada anak usia toddler dan anak pra sekolah.
4.      Apabila memungkinkan, ajukan pilihan pada anak tersebut tentang pemeriksaan yang diinginkan, sambil duduk atau di tempat tidur, atau di pangku oleh orangtuanya.
5.      Pemeriksaan yang menimbulkan trauma dilakukan paling terakhir. Dengan demikian, pilih pemeriksaan yang paling sederhana atau yang dapat dilakukan sambil bermain terlebih dahulu.
6.      Hindarkan pemeriksaan dengan menggunakan alat yang menimbulkan rasa takut,misalnya termometer atau stetoskop yang terasa dingin.
E.     PENATALAKSANAAN.
1.      PERSIAPAN ALAT.
a.       Pengukur/meteran/penggaris/Stadiometer.
b.      Penimbang BB.
c.       Termometer dan spekulum.
d.      Optalmoskop.
e.       Arloji berdetik.
f.       Manset:
o   Bayi baru lahir ukurannya : lebar kantong 2,5-4,0 cm dan panjang Kantongnya 5,0-9,0 cm.
o   Bayi ukurannya:lebar kantong 4,0-6,0 cm dan panjang kantongnya 5,0-9,0.
o   Anak-anak lebar kantong 7,5-9,0 Cm dan panjang kantongnya 17,0-19,0 cm.
g.      Stetoskop.
h.      Oksilometri.
i.        Peniti,kapas, objek dingin/kapas.
j.        Spatel lidah.
k.      Garpu tala.
l.        Snellen.
m.    Senter.
n.      Gambar warna.
2.      PELAKSANAAN PEMERIKSAAN FISIK ANAK.
a.      Persiapan Bayi.
Sebelum dapat duduk sendiri:
Terlentang atau telungkup atau lebih baik di pangkuan orang tua.
o   Usia 4 sampai 6 bulan dapat di tempatkan di atas meja periksaan.
Setelah dapat duduk sendiri:
Gunakan posisi duduk di pangkuan orang tua jika mungkin.
o   Jika diatas meja, tempatkan dan pandangan penuh pada orang tua.
o   Bila tenang auskultai jantung, paru, abdomen.
o   Catat frekuensi jantung dan pernafasan.
o   Palpasi dan perkusi area yang sama.
o   Lanjutkan dengan arah biasa,kepala ke kaki.
o   Lakukan prosedur traumatic di bagian akhir, mata, telinga, mulut (sambil menangis).
o   Munculkan reflek-reflek saat bagian tubuh tersebut diperiksa.
o   Lakukan pemeriksaan reflek Moro di bagian akhir.
o   Lepaskan semua pakaian bila suhu ruangan memungkinkan.
o   Biarkan popok terpasang pada bayi.
o   Tingkatkan kerja sama dengan distraksi,obyek erang,bunyi-bunyi dengan mulut,bicara.
o   Berikan kotak kecil dikedua tangan bayi yang lebih besar,sampai pelepasan volunter berkembang di akhir tahun pertama,bayi tidak mampu menggenggam obyek(misalnya stetoskop,otoskop)( Farber,1991 ).
o   Tersenyum pada bayi gunakan suara yang lembutdan perlahan.
o   Tenangkan dengan sebotol air gula atau makanan.
o   Minta bantuan orang tua untuk memegang bayi pada pemeriksaan telinga dan mulut.
o   Hindari gerakan yang kasar dan mengejutkan.
b.      Usia Bermain.
o   Duduk atau berdiri diatas atau disamping orang tua.
o   Telungkup atau terlentang dipangkuan orang tua.
o   Inspeksi area tubuh,melalui permainan “Hitung Jari” gelitik jari kaki.
o   Gunakan kontak fisik minimal diawal pemeriksaan.
o   Kenalkan alay dengan perlahan. Auskultasi,perkusi,palpasi bila tenang.
o   Lakukan prosedur traumatic terakhir (sama dengan bayi).
o   Minta orang tua untuk melepaskan pakaian bagian luar.
o   Lepaskan pakaian dalam pada saat tubuh tersubut di periksa.
o   Izinkan untuk melihat-lihat alay,menunjukkan penggunaan alat biasanya tidak efektif.
o   Jika tidak kooperatif lakukan prosedur dengan cepat.
o   Gunakan restrain bila tepat,minta bantuan orang tua.
o   Bicarakan pemeriksaan bila dapat bekerja sama :gunakan kalimat pendek.
o   Berikan pujian untuk perilaku kooperatif.

c.       Anak Pra Sekolah.
o   Lebih suka berdiri atau duduk.
o   Biasanya kooperatif dengan posisi telungkup/atau terlentang menyukai kedekatan dengan orang tua.
o   Jika kooperatif ,lakukan dari kepala ke jari kaki.
o   Bila tidak kooperatif,lakukan seperti pada anak usia bermain.
o   Minta anak melepaskan pakaiannya.
o   Izinkan untuk menggunakan celana dalam bila malu.
o   Berikan kesempata untuk melihat alat:tunjukkan dengan singkat penggunaannya.
o   Buat cerita tentang prosedur :”saya mau melihat seberapa kuat otot-ototmu”
o   Gunakan tehnik boneka kertas.
o   Beri pilihan jika mungkin.
o   Hargai kerja sama : gunakan pernyataan positif ”Buka Mulutmu”.
d.      Anak Usia Sekolah.
o   Menyukai duduk.
o   Kooperatif hampir semua posisi anak kecil menyukai kehadiran orangtua.
o   Anak yang lebih besar menyukai privasi.
o   Lakukan dari kepala dan kaki.
o   Bila tidak kooperatif ,lakukan seperti pada anak usia bermain.
o   Minta untuk melepaskan pakain sendiri.
o   Biarkan untuk memakai celana dalam.
o   Beri skor untuk dipakai.
o   Jelaskan tujuan peralatan dan kepentingan prosedur seperti otoskop untuk melihat
gendang telinga,yang diperlukan untuk mendengar.
o   Ajarkan tentang fungsi tubuh dan perawatannya.

e.       Remaja.
o   Sama dengan anak usia sekolah.
o   Berikan pilihan tentang keberadaan orang tua.
o   Sama dengan anak usia sekolah yang lebih besar.
o   Izinkan melepaskan pakaian sendiri.
o   Beri Skor.
o   Buka hanya area yang akan diperiksa.
o   Hargai kebutuhan privacy.
o   Jelaskan temuan-temuan selama pemeriksaan. ”ototmu kuat dan padat”
o   Beri keterangan tentang perkembangan seksual : “Payudaramu sedang berkembang seperti seharusnya“
o   Tekan kenormalan perkembangan.
o   Periksa genetalia seperti bagian tubuh yang lain:dapat di lakukan di akhir.

0 komentar:

Poskan Komentar